Jun

13

Terminologi “Andai” dalam sepakbola part 1

By admin

makalele - beritabolaunik.com

Berita Piala DuniaPernahkah kata “andai” muncul dalam pikiran anda?

Menurut saya tak ada seorang pun di dunia ini yang tak pernah berkata “andai” dalam perkataannya. Bahkan tak terlintas pun di pikiran saya yang sempit ini kalau ada orang di belahan dunia lain tak pernah melintaskan kata “andai” dalam pikiran mereka satu kalipun.

“Andai” dan apapun idiomnya dalam segala macam bahasa di dunia, memiliki makna ketidaksanggupan seseorang, sekumpulan orang atau lembaga untuk mendapatkan sesuatu. “Sesuatu” yang dimaksud bisa saja berarti apapun, maknanya bebas selama “sesuatu” adalah yang tak dapat digapai oleh orang/sekumpulan orang/lembaga yang dimaksud. “Andai” juga bermakna seperti mesin waktu, sebuah kekhilafan yang berharap tak dilakukan oleh si pelaku. Pelaku yang dimaksud adalah seseorang/sekumpulan orang/lembaga. Pendek kata, dengan “andai” yang berupa keputusasaan dan penyesalan, orang pertama yang mengeluarkan kata itu berharap kesalahannya atau impiannya di masa lalu dapat terlaksana kembali. Dalam fase ini, andai mencapai bentuk kepasrahan dan penyesalan.

Anda bingung?

Memang berbicara tentang makna “andai” akan berlangsung membingungkan otak kiri anda, yang digunakan untuk penalaran bahasa bila memang anda tak kuat di otak kiri. Untuk mempermudah penggunaan andai yang berupa penyesalan, kekhilafan, kepasrahan dan penyesalan akan saya berikan contohnya. Tentu dalam konteks sepakbola.

Andai ..

Claude Makelele tetap di Madrid

Claude Makelele, salah satu pemain bertahan terbaik di jamannya. Perisai pertama di jantung pertahanan lawan. Pemain yang membuat gelandang serang dan playmaker yang berada didepannya dapat berkreasi dengan lebih tenang. Dan pemain yang kinerjanya diacuhkan oleh mata-mata awam penggemar sepakbola biasa .. dan beberapa orang dijajaran Direktur Real Madrid.

Real Madrid adalah klub terbaik dalam abad 20 menurut IFFHS. Mereka bisa mendominasi Eropa pada pertengahan 50-an sampai awal 60-an. Patut diakui juga setelah itu mereka tenggelam begitu lama. Eropa pasca 60-an adalah panggung bagi negara Eropa Timur, cattenaccio Helenio Herrera yang membawa skuad berjuluk la grande Inter menjadi skuad abadi, saat dimana Glasgow Celtic membuat mata orang Spanyo terperangah, dan dahaga terpuaskan dari Matt Busby yang sukses membawa Manchester United menjadi klub Inggris pertama yang menjuarai kejuaraan antar klub Eropa. Menginjak 70 dan 80-an, Eropa secara bergantian didominasi oleh jago-jago dari Bavaria dan Belanda, Bayern Muenchen dan Ajax Amsterdam menjadi juara tiga kali beruntun.

Lantas dimana Madrid pada era itu?

Mereka tetap tim besar yang disegani dan secara konsisten memasuki babak-babak akhir sepakbola antar klub Eropa. Tapi cukup sampai babak-babak akhir saja. Bahkan Madrid pernah dibuat mainan oleh trio Belanda yang bermain ganas di Milan – Basten, Gullit, Rijkard – Madrid dihajar 2-0 dan 4-0 pada dua pertemuan di semifinal. Milan memang ganasnya pada saat itu.

Madrid baru merasakan gelar juara Liga Champions di tahun 1998 saat mereka mengalahkan Juventus dan tampil kembali untuk menjuarai si kuping besar dengan rentang waktu yang sedikit. Si kuping besar singgah dua kali di Santiago Bernabeu pada tahun 2000 dan 2002.

Adalah nama tenar Luis Figo, Fernando Redondo, Zinedine Zidane, Raul Gonzales yang sangat diidolai saat itu. Dua kali menjuarai Liga Champions dalam waktu tiga tahun tak akan sulit bila anda mempunyai nama-nama yang disebutkan diatas.

No.

Madrid tak akan dapat menjuarai Liga Champions dua kali dalam tiga tahun terakhir andai nama Makelele tak berada di kostum putih-putih.

Andai Makelele tak melindungi four-back Madrid yang dikomandani Fernando Hierro, apa yang terjadi bila Los Blancos menerima serangan balik?

Andai Makelele bukan Makelele yang menemani Fernando Redondo di jantung permainan Madrid, mendukungnya serta membuka ruang bagi creator asal Argentina itu, bisakah Madrid memulai serangan mereka?

Andai Makelele tak menutup ruang kosong di lapangan tengah Madrid, siapakah yang bisa membuat hati Zidane dan Figo tenang saat mereka sedang berimajinasi di final third pertahanan lawan?

Andai Makelele tak hadir di final Liga Champions 2002, siapakah yang dapat menutup keagresifan dan  permainan fisik Bayer Leverkusen saat itu?

Tak perlu repot-repot membayangkan bagaimana bobroknya Real Madrid sebagai tim setelah Makelele pindah dari sana. Anda cukup menelusuri skor pertandingan yang melibatkan Madrid setelah tahun 2003.