Jun

10

Mourinho Meninggalkan Spanyol Dengan Kesan Buruk

By admin

mourinho x

Mourinho Meninggalkan Spanyol Dengan Kesan Buruk

Berita World Cup – Pada wawancara terakhirnya dengan media Spanyol, bintang Barcelona, Andres Iniesta mengatakan bahwa Jose Mourinho lebih banyak melakukan keburukan daripada kebaikan selama masa kepelatihan penuh kontroversi 3 tahun di Spanyol.

Mourinho yang menukangi armada Real Madrid mendapatkan tugas untuk menuntaskan dahaga Real Madrid akan la decima pada 2010. Keputusan Florentino Perez untuk mendatangkan pelatih yang kala itu berusia 48 tahun ke Santiago Bernabeu tak lain adalah keberhasilannya meraih treble winners bersama Inter Milan di tahun 2010. Inter Milan hingga kini menjadi satu-satunya klub Italia yang pernah meraih treble winners. Bahkan la grande Inter besutan Helenio Herera di tahun 1960-an tak dapat melakukannya.

Mourinho datang ke ibukota Spanyol musim panas 2010. Dia ditugasi oleh Florentino Perez untuk mendatangkan trofi la decima – gelar Liga Champions ke-10 – ke Santiago Bernabeu. Mourinho datang ke Spanyol juga punya misi tersendiri. Selain ingin menjadi pertama yang pernah juara liga di empat negara berbeda – mengikuti jejak Ernst Happel dimasa lalu – Mourinho memiliki ambisi pribadi untuk mengalahkan Pep Guardiola.

Pep Guardiola menahbiskan dirinya termasuk dalam jajaran pelatih top dunia sejak berhasil membawa Barcelona menyapu bersih semua gelar yang tersedia dalam setahun di 2009. Barcelona meraih treble winners di Eropa, meraih gelar super Eropa di bulan Juli 2009 dan melengkapinya dengan juara piala dunia antar klub diakhir tahun.

Raihan itulah yang membuat Mourinho ingin membuktikan dirinya bisa mengalahkan Pep. Mulai saat itulah perselisihan antara Pep dan Mourinho meningkat, begitu pula eskalasi kebencian pendukung Barcelona pada Mourinho, pria yang pernah menjadi bagian dari el barca di awal millennium. Barcelonistas mungkin tak akan mengira pria yang mengawali karir kepelatihan dengan menjadi asisten penerjemah Sir Bobby Robson – dan menguasai empat bahasa – itu akan menjadi salah satu nama yang paling mereka benci setelah Luis Figo.

Musim pertama Mourinho di Real Madrid diawali dengan optimis oleh Madridista, bukan hanya Madridista, tapi segenap anggota keluarga besar Real Madrid. Mourinho sudah memenuhi semua syarat untuk menjadi pelatih utama mereka. Madridista bersiap untuk mengakhiri rangkaian pesta juara yng dilakukan Barcelona sejak dua tahun terakhir karena pelatih yang pernah membuat Barcelona tersungkur di tahun lalu kini menjadi bagian mereka. Tiki-taka akan hancur ditangan Mourinho – yang disuruh untuk merubah gaya bermain timnya menjadi lebih agresif – yakin mereka.

Pekan-pekan pertama la liga menunjukkan bahwa optimisme itu masih berada dalam koridor yang tepat. Sampai pada Oktober 2010, pendukung Real Madrid yang yakin kalau tim barunya itu akan meruntuhkan Barcelona sendiri di rumahnya – Camp Nou – harus rela melihat imnya dipermalukan Barcelona. Lima gol lunas dicetak pemain Barcelona ke gawang Iker Casillas. David Villa menjadi bintang pada pertandingan malam itu dengan hat-trick yang dicetaknya.

Tiga tahun di Real Madrid – 2 tahun melawan Pep dan setahun melawan Tito Villanova – cerita sukses dan kegagalan mewarnai perjalanan Mourinho. Saking serunya persaingan itu, kita sampai disuguhi adegan colok mata saat Piala Super Spanyol berlangsung.

Kendati demikian, terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa Mourinho membuat keburukan bagi persepakbolaan Spanyol. Dibawah asuhannya, Real Madrid konsisten untuk melaju sampai semifinal tiga musim beruntun – sebelum Mourinho datang, sejak 2006 Madrid hanya bertahan sampai babak 16 besar. Capaian seperti itu berefek pada koefisien UEFA yang dimiliki la liga hingga menjadi yang tertinggi di Eropa. Seburuk-buruknya komentar Mourinho terhadap lawannya, dia selalu memberikan tempat bagi pemain muda Spanyol, produk dari Real Madrid Castilla, Jose Callejon, dan Alvaro Morata adalah nama-nama pemain muda orbitan Mourinho.

Manusia memang punya dua sisi, baik dan buruk, meskipun Mou berselisih dengan Casillas, kapten timnas Spanyol, mari kita maafkan, karena nama itu tak akan ditemui lagi oleh insan sepak bola Spanyol.