Jun

10

Andrey Arshavin Pemain Yang Terbuang

By admin

arshavin

Andrey Arshavin Pemain Yang Terbuang

Berita Piala Dunia– Arshavin yang dibeli oleh Wenger 8 bulan kemudian setelah Euro 2008 bermain dalam Euro pertamanya. Dia memperkuat Russia melawan tim Skandinavia, Swedia, pemain mungil yang memiliki sentuhan laiknya dewa sepakbola, setidaknya itu anggapan supporter Zenit St. Petersbrug. Arshavin baru saja menjadi bintang dari kemenangan menakjubkan Zenit di kancah Europa League, beberapa orang menganggap dia adalah nafas baru dalam sepak bola Rusia. Dia pemain yang kecil untuk ukuran Eropa dengan rambut klimis khas orang Slavik, gaya bermainnya yang selalu menemukan celah di pertahanan lawan dan mengeksploitasinya habis-habisan sangat istimewa. Instingnya seperti tahu dimana celah kosong pertahanan lawan berada, dan dia mencabik-cabik celah tersebut. Pertahanan Swedia malam itu sukses di-demoralisasi oleh insting Arshavin.

Saat itu kita melihat pemain yang Nampak memiliki segalanya. Dia punya kecepatan, visi, sentuhan, dan karisma yang sama yang hanya bisa kita lihat pada bintang sejati. Bola dikakinya nampak lengket, atau kakinya yang memiliki perekat dengan bola, aku tak tahu. Pada pertandingan itu Arshavin adalah pangeran kecil Rusia. Penampilan gemilang Arshavin terus berlanjut sampai ia membawa Rusia ke Euro 2008. Sejak itu publik menganggap bahwa seorang calon bintang berkelas dunia akan lahir. Barcelona pernah mencoba memboyongnya, tapi akhirnya pemain mungil dari Rusia ini berlabuh ke Emirates Stadium. Kala itu usianya sudah 28 tahun, ia merasa sudah siap untuk petualangan baru di tanah Inggris.

Hidup itu seperti roda, kadang kita diatas, kadang kita dibawah. Idiom yang sering dikatakan oleh orang tua kita jaman dulu, berlaku bagi siapapun di dunia ini. Sebagai manusia yang tak bis amengingkari kodrat alam, adalakalanya kita berjaya dan menikmati peran laiknya seorang raja. Namun saat pendulum kehidupan mengarah ke bawah, kita juga harus siap menghadapi yang terburuk. Arshavin tahu hal itu.

Datang ke Arsenal dengan memecahkan rekor transfer 15 juta pounds. Arshavin adalah pemain mahal Arsenal sejak Wenger membeli Jose Antonio Reyes dari Sevilla. Awal kedatangan Arshavin yang di-highlight oleh penampilan briliannya di Euro 2008, dianggap sebagai jawaban Wenger atas kritikan yang mengarah padanya. Bagaimana bila pemain sebrilian Arshavin diberi rekan sekelas Cesc Fabregas, Samir Nasri, dan Robin van Persie. Mungkin the invincibles part 2 akan tercipta, mungkin itu yang ada di kepala Wenger saat kedatangan Arshavin ke London.

Empat tahun kemudian Arshavin hanyalah pemain cadangan, dia sering dianggap sebagai salah satu transfer terburuk. Banyak orang yang mengatakan kalau Arshavin gagal di Arsenal karena dia tidak ditempatkan di posisi terbaiknya. Posisi alami Arshavin bukanlah pemain sayap yang bermain melebar, dia bukan seorang yang bermain sebagai striker murni, posisi terbaik Arshavin mungkin mirip seperti Ronaldinho di Barcelona. Free role. Ada dimana saja, di depan, di sayap, menusuk dari sisi lapangan atau dari tengah, tipikal pemain yang langka. Pemain sepertinya menuntut semua serangan harus berawal darinya. Tim harus dibangun disekelilingnya. Sayang sekali Liga Inggris bukanlah tempat yang cocok bagi pemain bertipe Arshavin. Ronaldinho pun di masa jayanya, pasti merasa terisolasi bila dia ditempatkan di Liga Inggris. Pemain dengan naluri dan imajinasi seperti mereka akan cocok bila main di La Liga dan Serie-A – surga bagi pemain dengan naluri fantasista, lihat saja Totti yang berumur senja dan masih mendapat tempat. Negara-negara latin adalah tempat yang cocok bagi jiwa penuh nilai artistic, lain dengan Inggris yang kaku, tempat pemain beringas macam Nigel de Jong dan Carlos Tevez menemukan jati dirinya.

Pendapat tadi tak sepenuhnya tepat bila kita melihat sosok Gianfranco Zola. Dia adalah pemain mungil, lebih mungil daripada Arshavin. Dan Zola adalah anomaly. Saat dia bermain, Inggris masih mengagungkan gaya bermain umpan panjang secara barbar. Formasi 4-4-2 adalah harga mati. Tapi Zola berhasil menemukan celah fantasinya sendiri di ruang sempit sepertiga lapangan di lini depan. Zola bisa berkreasi di tengah-tengah bek raksasa yang ada di Liga Inggris. Karirnya yang gemilang di Chelsea mengantarkan namanya diabadikan menjadi pemain terbaik Chelsea abad ini.

Arshavin tak peru iri pada pemain yang memiliki kelebihan fisik macam Thierry Henry yang punya kaki sprinter, Wayne Rooney, David Ginola, dan Didier Drogba yang gempal namun cepat dan tak bisa dijatuhkan. Dia tak perlu menjadi pemain dengan keunggulan fisik macam mereka.

Bila mau berkarir di Liga Inggris dengan lebih lamai, kapten timnas Rusia di Euro 2012 itu dapat berkaca pada permainan junior-juniornya yang pendek dan juga fantasista. Ada Jack Wilshere, Josh McEachran, Callum McManaman, David Silva, Eden Hazard dan Juan Mata. Pemain-pemain itu adalah sekelompok pemain kecil dan memiliki daya fantasi luar biasa – namun mampu menjadi pemain tim dan sedang bersiap untuk menapaki jalur sukses di Premier League lebih lama.

Berubah dan tidak berubah adalah pilihan.

Arshavin memiliki pilihannya sendiri dalam menentukan nasib. Apa dia akan menjadi sosok samar Wenger yang kulihat di Austria? – pertama terlihat jelas, namun cepat menghilang. Atau berhasil menjadi pemain seperti Zola, sukses memperpanjang nafas di Liga Inggris dan berakhir dengan menjadi legenda, agak berlebihan memang. Atau setidaknya dia bisa meneladani kerja keras sesama pemain kecil macam Jack Wilshere dan lainnya disebutkan tadi, untuk bertahan lebih lama lagi.

Anyway, selamat jalan Arshavin semoga menemukan klub yang bisa membuat anda bersinar kembali.