Jul

16

Agen Judi Garrincha Sang Penghibur Part 3 End

By admin

Garrincha Sang Penghibur

Agen Judi – Tulisan terakhir yang membahas kebahagiaan yang dibawa Garrincha ke lapangan hijau, dan juga pada kehidupan orang yang menonton permainannya.

Apakah saat nyawa lepas dari raga, orang lain akan mengenang kita? Atau setidaknya mereka bahagia hanya dengan mengenang keberadaan kita di masa lalu?

Dalam konteks kehidupan Garrincha, dia meninggalkan sebuah magic dalam ingatan dan mimpi pria-pria yang kini telah tua. Memori yang bentuknya hanya berupa rekaman gambar hitam putih yang kini telah digilatisasikan kembali oleh kemodernan jaman, menjadi rangkaian aksi yang memukau.

Dalam membangun tim menuju gelar juara dunia 1954, Garrinchaharus menjalani operasi pengangkatan amandel. Dia duduk tak berkedip saat jarum operasi masuk ke mulutnya. Kemudian setelah operasi berlangsung, dia kehilangan banyak darah. Saat dia kembali ke skuad Selecao, berat badannya turun sampai Sembilan kilo. Pele menanyakan apakah kondisinya sudah agak baikan. Garrrincha tersenyum dan mengatakan, “Akhirnya aku memenuhi impian masa kecilku – aku bisa makan es krim setelah operasi amandel.” Ceritanya dengan mata yang berbinar – Agen Judi.

Pada suatu ketika skuad timnas Brazil mengikuti tes psikometri, dan Garrincha dinyatakan memiliki kecerdasan yang berada dibawah rata-rata anak SD dengan agresi nol. Dia bahkan mengeja kata ‘athlete’ dengan salah dalam kolom pekerjaannya. Bila dia kembali ke Pau Grande, dia tak akan diijinkan untuk mengemudi bus sekolah. Tapi apakah pendidikan menjadi hal yang penting saat kau dapat membuat orang lain bahagia? Apa yang akan kau pilih?

Dalam pertandingan pemanasan menjelang Piala Dunia Swedia 1958, Brazil mengadakan pertandingan uji coba melawan Fiorentina. Di akhir babak kedua, Garrincha melewati pemain Fiorentina, Robotti, Magnini, Cervato sebelum mempermalukan kiper Sarti. Dia kini sedang berhadapan dengan gawang yang kosong di depannya, tapi dia menunggu Robotti bangkit dan mengejarnya. Dengan tipuan dan gerakan yang indah dia mengecoh pemain Italia itu hingga hampir menabrak tiang gawang. Setelah itu dia kemudian menyentuh bola dengan pelan ke gawang Fiorentina, dia memasukkan bola ke gawang lawan karena sudah tak memiliki pilihan lain untuk bersenang-senang (baca : bek dan kiper Fiorentina sudah menyerah dan tak mampu mengejarnya) – Agen Judi.

Setelah bola masuk ke gawang, dia membawa bola dengan tangannya, ditaruh dibawah ketiak, dan dia membawa bola ke tengah lapangan, ke garis tendangan kick off. Penonton yang hadir disana terdiam sebelum takjub atas permainan Garrincha. Tak peduli bahwa timnya kalah dengan skor 4 gol tanpa balas, tifosi la Viola melakukan selebrasi dan penghormatan yang luar biasa bagi sang burung kecil dengan gila. Mereka sadar bahwa mereka telah melihat sihir dalam sepakbola.

Tipe permainan Garrincha yang membawa kebahagiaan bagi penonton ternyata tak sejalan dengan direktur teknis di timnas Brazil. Mereka khawatir permainan Garrincha yang individualis akan mempengaruhi keseimbangan permainan tim Seleccao (oh, ironi). Namun kekhawatiran yang terlalu berlebihan tersebut tak menghalangi peluang Garrincha untuk tampil di Piala Dunia 1958. Penampilan paling apik di turnamen tersebut dapat dilihat pada pertandingan melawan Uni Sovyet di semifinal Piala Dunia 1958. Saat itu Brazil akan melawan Uni Sovyet – yang beberapa tahun terakhir ditakuti karena pendekatan scientific yang mereka miliki. Garrincha dengan polosnya berkata, “mungkinkah mereka bermain baik?” – Agen Judi.

Brazil butuh start bagus untuk mengalahkan Uni Sovyet. Dan yang terjadi pada awal pertandingan banyak dideskripsikan sebagai tiga menit terbaik dalam sepakbola Brazil. Dalam rentang waktu 180 detik, Garrincha melewati bek Kutnetzov empat kali, meninggalkan Voinov dibelakangnya dan diikuti dengan tawa dari 50 ribu penonton di Gothenburg, tendangannya membentur tiang gawang. Pele kemudian menerima bola tersebut dan memberikan bola ke Vava, kiper legendaries Sovyet Lev Yashin salah posisi dalam mengantisipasi bola, dan gol. Brazil menang 2-0 dan melaju ke final untuk mengalahkan Swedia 5-2 di pertandingan dimana supporter Swedia ikut bersorak merayakan kemenangan Brazil.

Garrincha menjuarai Piala Dunia 1958, dan menjuarainya lagi di tahun  1962, hampir sendirian. Brazil tak pernah kalah bila Pele dan Garrincha bermain bersama. Dia mencetak 249 gol dari 579 penampilan bagi Botafogo. Tentang Garrincha Pele pernah mengatakan bahwa dia tak akan bisa memenangkan Piala Dunia tiga kali bila Garrincha tak berada disisinya.

Kehidupan Garrincha adalah kontradiksi, dia menciptakan kebahagiaan di lapangan tapi kehidupannya di luar lapangan mengalami banyak kesedihan. Dia membuat seluruh negara mencintainya tapi dia diabaikan oleh keluarganya sendiri. Pada saat meninggal, dia dalam kondisi sendirian, tapi saat pemakamannya, orang-orang di sepanjang jalan menangis dalam menyambut jenazahnya – Agen Judi.

Penghormatan abadi untuk kebahagiaan yang diciptakan Garrincha berupa penamaan kamar ganti di Stadion Maracana, kuil sepakbola Brazil. di stadion tersebut, kamar ganti milik tuan rumah Brazil dinamai dengan Garrincha, sedangkan kamar ganti tim tamu dinamai dengan Pele. Ini menunjukkan cinta masyarakat Brazil yang lebih tinggi ke Garrincha daripada seorang Pele sekalipun.

 

Ditulis oleh Berita Bola Unik Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://beritabolaunik.com/agen-judi-garrincha-sang-penghibur-part-3-end/ Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.